ONLINE

Selasa, 10 Agustus 2010

Anggota DPR RI merasa dibohongi pemprop ‘Tragedi Bunaken’ Bisa Bermuara ke KPK

Manado, KOMENTAR
Kecelakaan kapal kayu Ex Rogero di pesisir dekat Pela-buhan Manado yang mene-waskan Anggota Komisi III DPR RI dari PDIP Setia Permana dan Ny Sutjipto Wahyuni, istri Anggota DPR RI dari Partai Demokrat Su-tjipto, bisa bermuara sampai di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apa pasal?

Menurut Otong Abdurrah-man, Anggota DPR RI yang selamat dalam peristiwa tragis tersebut, para korban di KM Ex Rogero yang umumnya Anggota Komisi III DPR RI, ternyata mendapatkan fasili-tas transportasi laut yang ti-dak memadai. Padahal di satu sisi, Pemprop Sulut memiliki kapal (coelacanth) yang lebih representatif namun tidak dimanfaatkan.
“Saya sangat menyesalkan dan kecewa dengan Pemprop Sulut karena tidak menye-diakan fasilitas yang baik, padahal kami datang ke Ma-nado dan Bunaken dalam rangkaian tugas, bukannya hanya wisata saja. Seharusnya kami mendapatkan fasilitas yang layak dan ini tidak perlu terjadi bila itu diberikan,” tandas Otong Abdurahman kepada wartawan saat me-ninjau Pelabuhan di Megamas milik pemprop, Minggu (08/08).
Otong melontarkan statemen ini setelah mengetahui ternyata pemprop memiliki fasilitas tranportasi yang sangat me-madai untuk ke Bunaken, namun tidak diberikan kepada rombongan para pejabat yang mengalami musibah. Terkait pelayanan yang dinilai tidak serius dari pemda di Sulut ini, Otong mengaku, akan diper-masalahkan pihaknya hingga ke pusat.
“Saya sudah dimintakan oleh komisi untuk mengusut peris-tiwa ini dan akan membawa hasilnya pada sidang di DPR RI, juga memanggil mereka yang berkompeten menyang-kut peristiwa tragis ini,” tegas Otong yang juga turut di rom-bongan kapal naas namun berhasil menyelamatkan diri.
Otong bersama rekannya dari Anggota DPR dari PKS, Aboe Bakar Al Habsy, sempat me-ngunjungi pelabuhan sandar kapal Coelacanth milik Pem-prop Sulut, guna mengecek kondisi kapal tersebut. Mereka kemudian mendatangi pelabu-han Marina Plaza dilanjutkan ke Kantor Adpel Manado, seka-ligus melihat kembali lokasi kejadian kecelakaan yang terjadi Sabtu 07/08) lalu.
Di sela-sela kunjungan itulah, Otong dan rekannya, mem-pertanyakan kenapa rombo-ngan Komisi III yang ke Buna-ken, tidak difasilitasi kapal Coelacanth aset pemprop yang dikelola Dishub Sulut, padahal setelah ditinjau hari Minggu kemarin sesuai pernyataan salah seorang ABK (Anak Buah Kapal) kondisinya siap jalan.
Cuma anehnya, pada saat hari kejadian naas itu, Coelacanth tidak sedang digunakan alias stand by di pelabuhan yang berada di depan rumah makan Wahaha, Megamas. Keanehan lainnya, sebelum Otong cs berangkat ke Bu-naken Sabtu lalu, seorang staf dari pemprop memberikan alasan bahwa kapal Coelacanth sedang masuk dok di Bitung untuk perbaikan.
Dari keterangan dan kejadian yang menimpa pihaknya, Otong pun mencurigai ada hal yang janggal dengan keberadaan Kapal Coelacanth yang bernilai miliaran rupiah tersebut. Dia mensinyalir, bukan tidak mung-kin ada sesuatu yang ditutup-tutupi terkait keberadaan kapal Coelacanth. Oleh sebab itu, Otong menambahkan, pihaknya akan menelusuri hingga tuntas masalah ini. “Bisa saja kasus ini akan berkembang lebih jauh hingga ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) bila memang ada penyelewengan dari proyek pengadaan kapal Coelacanth yang coba ditutup-tutupi, sehingga kami tidak diberikan fasilitas tersebut saat ke Buna-ken. Apalagi sampai mengaki-batkan rekan saya dari Fraksi PDIP tewas secara mengenas-kan. Pastinya kesimpulan se-mentara saya telah terjadi pelecehan terhadap lembaga sehingga tidak diperlakukan sebagaimana mestinya,” geram-nya lagi.
Dia melihat, sikap dari pem-prop yang membohongi dengan mengatakan kapal dalam kea-daan diperbaiki sehingga tidak dapat digunakan, bisa meng-indikasikan ada yang memang tidak beres. Sementara diper-oleh informasi, KM Ex Rogero yang ditumpangi Anggota Ko-misi III DPR dari Bunaken ke Manado, ternyata tidak dileng-kapi standar pengamanan yang layak.
Salah satunya, kapal naas itu tidak dilengkapi pelampung. Menariknya, hal ini turut diakui Kepala Bidang Humas Polda Sulut, AKBP Benny Bela. Menurut pengalaman pihak-nya, dalam beberapa kali me-numpang kapal sejenis yang menjalani rute Bunaken, me-mang kadang tidak ada pe-lampungnya.
Kabar terakhir, Polda yang menyelidiki tragedi kapal Bu-naken ini, telah menetapkan nakhoda kapal Ex Rogero, AL alias Alex, sebagai tersangka dan ditahan. Warga Sindulang itu, sebelum ditahan menjalani pemeriksaan intensif oleh penyidik Polda. Hal ini dibe-narkan Kabid Humas Polda Sulut, AKBP Drs Benny Bella, ketika dikonfirmasi wartawan, kemarin. “Penyidikan kasus ini dilakukan sangat cepat sehing-ga langsung diikuti penaha-nan,” jelas Bella. Bella memas-tikan kasus ini terus diper-dalam penyidik, sehingga ma-sih ada pihak-pihak lain yang kemungkinan besar akan di-periksa juga.
Di bagian lain, rombongan yang menumpangi kapal naas ini ternyata bukan hanya ber-wisata. Kunjungan mereka ke Bunaken ini untuk meninjau keberadaan Pos Polair di Buna-ken yang merupakan satuan dari Direktorat Polair Polda Sulut. Namun ada hal ironis yang terjadi. Di mana tak ada satu pun bentuk pengawalan yang dilakukan instansi terkait terhadap rombongan saat ber-layar. Tapi hal ini langsung di-bantah Dir Polair Polda Sulut, Kombes Pol Drs Tubuh Musya-reh. “Tidak ada koordinasi de-ngan kami soal keberadaan rombongan tersebut di Buna-ken. Saat itu kami sedang fokus pada pengamanan bantuan untuk bencana di Siau,” papar Musyareh.(vtr/imo)


Sumber : Harian Komentar Share